Selasa, 21 Februari 2012

Sardari, Muslim Penyelamat Yahudi dari Kekejaman Nazi


Banyak orang tak asing dengan nama Oskar Schindler, seorang pengusaha Jerman yang mau bersusah payah menyelamatkan para buruh Yahudinya dari kekejaman Nazi Jerman.

Namun, mungkin hanya sedikit yang pernah mendengar nama Abdol-Hossein Sardari -- seorang muslim asal Iran yang melakukan hal yang sama. Atas nama kemanusiaan.


Baca Selengkapnya



Sardari, seorang diplomat Iran di Paris pada masa perang, mempertaruhkan segalanya, demi menyelamatkan nyawa ribuan Yahudi Iran. Sepak terjangnya dikisahkan dalam buku "The Lion's Shadow" karya Fariborz Mokhtari.

Seperti dimuat kantor berita BBC, Rabu 21 Desember 2011, apa yang dilakukan Sardari membuat ribuan Yahudi Iran dan keturunannya berutang nyawa.

Salah satunya, Eliane Senahi Conahim, yang baru berusia tujuh tahun saat ia melarikan diri dari Prancis bersama keluarganya -- ayahnya, George Senahi adalah pedagang tekstil kaya yang punya rumah besar di Montmorency, sekitar 25 kilometer dari ibukota Prancis, Paris.

Saat invasi Nazi, keluarga Senahi berniat melarikan diri ke Teheran, usaha yang gagal. Mereka akhirnya bersembunyi di sebuah pedesaan di Prancis, sebelum akhirnya terpaksa pergi ke Paris -- yang berada dalam cengkeraman penuh Gestapo -- tentara Nazi.

"Saya ingat cara mereka berjalan dengan bot hitam. Hanya dengan melihat mereka saja sudah bisa membuat anak kecil seperti aku dulu, merinding," kata Conahim, dari rumahnya di California.

Seperti halnya warga Yahudi Iran di Prancis lainnya, mereka meminta bantuan misi diplomat Iran di Prancis. Conahim ingat, ayahnya selalu menceritakan, berkat Sardari, keluarganya bisa selamat.

Sardari memberikan keluarga Senahi paspor dan segala dokumen perjalanan yang dibutuhkan supaya bisa melewati Eropa dengan aman. "Setiap mencapai perbatasan, ayah saya selalu gemetaran. Namun ia adalah pria tangguh yang berhasil meyakinkan kami bahwa semua akan baik-baik saja," kenang Conahim, yang menyebut Sardari sebagai "Oskar Schindler bagi Yahudi Iran".

Dalam bukunya, Fariborz Mokhtari menggambarf Sardari sebagai sosok bujangan yang tahu cara bersenang-senang -- lalu tiba-tiba menemukan dirinya sebagai orang penting dalam misi diplomatik Iran, di awal Perang Dunia II.

Meski bersikap Netral, Iran punya hubungan baik dengan Jerman kala itu, apalagi setelah mesin propaganda Nazi mendeklarasikan Iran juga sebagai bangsa Arya. Kendati demikian, Yahudi Iran juga terancam.

Dengan pengaruh diplomatik serta para kenalannya di Jerman, Sardari berhasil meloloskan lebih dari 2.000 Yahudi Iran dari hukum keras Nazi dengan argumen, mereka tidak memiliki hubungan darah dengan Yahudi Eropa.

Ia membantu warga Iran, termasuk yang Yahudi kembali ke Teheran dengan cara mengeluarkan pasor jenis baru yang memungkinkan mereka bepergian melintasi Eropa -- ini terkait kebijakan rezim baru Iran pada 1925 yang mengenalkan paspor dan kartu identitas baru -- yang jelas tak dimiliki warga Iran yang tinggal di Eropa atau yang menikah dengan orang non-Iran, termasuk anak-anak dari perkawinan campuran.

Aktivitas Sardari tak surut meski pada September 1941 -- saat Inggris dan Rusia menginvasi Iran -- ia diharuskan kembali secepat mungkin.

Namun, Sardari menolaknya. Meski kehilangan status dan kekebalan diplomatik, ia bertahan di Prancis, membantu saudara sebangsanya, termasuk Yahudi Iran -- mempertaruhkan keselamatannya, sampai menguras uang warisannya agar kantornya tetap berjalan.

Paspor kosong yang dikeluarkan Sardari diperkirakan antara 500 sampai 1.000 lembar. Dalam bukunya, Mokhtari mengatakan, satu paspor berlaku untuk dua sampai tiga orang. "Jadi, ia telah menyelamatkan sekitar 2.000 orang."

Sepanjang hayatnya, Sardari selalu menolak penghargaan yang diberikan padanya dan selalu bersikeras bahwa ia hanya melakukan tugas.
Yang menyedihkan, ia meninggal dalam kondisi sebatang kara di tempat tidurnya di Croydon, London di tahun 1981 -- setelah kehilangan pensiunnya sebagai diplomat, juga semua propertinya di Iran pasca revolusi.
Penghargaan atas kerja kemanusiaan Sardari akhirnya diberikan pada 2004 dalam sebuah upacara di Simon Wiesenthal Centre, Los Angeles. Penulis buku, Fariboz Mokhtari, berharap dengan tersebarnya cerita Sardari dan testimoni para Yahudi Iran, miskonsepsi yang ada di Iran akan runtuh.

"Disini ada Muslim Iran melakukan sesuatu yang tak lazim, mempertaruhkan hidupnya, karirnya, propertinya, dan semuanya untuk menyelamatkan saudara sebangsanya," kata Mokhtari.

"Sama sekali tak terbesit dalam benaknya: 'saya Muslim, dia Yahudi' atau semacamnya."

Sumber : Vivanews.com

Sabtu, 08 Oktober 2011

SUBHANALLAH, keajaiban tulisan Allah SWT


ini mungkin agak lain dengan thread-thread lain yang pernah saya buat, disini saya meminta partisipasi kalian para pembaca budiman sekalian, hanya perlu waktu 10 detik saja, siap? baca selengkapnya


selengkapnya



jadi begini teman - teman sekalian, di ataskan ada gambar, lihatlah 3 titik yang terdapat pada hurup Iam, lihatlah selama 10 detik secara fokus lalu lihatlah ke tembok sekitar anda, maka sesuatu akan terjadi, bagaimana teman - teman ? suatu keajaiban bukan?

Rp 20.000 / jam


mungkin banyak dari kita yang jarang merasakan indahnya waktu bersama orang tua kita yang tercinta , mungkin ada cerita yang saya dapat dari sebuah situs, cerita ini sungguh mengunggah hati saya ketika membacanya, cerita ini tentang bagaimana pentingnya waktu bersama keluarga itu, berikut ceritanya


selengkapnya




Seorang pria pulang kantor terlambat, dalam keadaan lelah dan penat, saat menemukan anak lelakinya yang berumur 5 tahun menyambutnya di depan pintu.

“Ayah, boleh aku tanyakan satu hal?”
“Tentu, ada apa?”
“Ayah, berapa rupiah ayah peroleh tiap jamnya?”
“Itu bukan urusanmu. Mengapa kau tanyakan soal itu?” kata si lelaki dengan marah.
“Saya cuma mau tahu. Tolong beritahu saya, berapa rupiah ayah peroleh dalam satu jam?” si kecil memohon.
“Baiklah, kalau kau tetap ingin mengetahuinya. Ayah mendapatkan Rp 20 ribu tiap jamnya.”

“Oh,” sahut si kecil, dengan kepala menunduk. Tak lama kemudian ia mendongakkan kepala, dan berkata pada ayahnya, “Yah, boleh aku pinjam uang Rp 10 ribu?”

Si ayah tambah marah, “Kalau kamu tanya-tanya soal itu hanya supaya dapat meminjam uang dari ayah agar dapat jajan sembarangan atau membeli mainan, pergi sana ke kamarmu, dan tidur. Sungguh keterlaluan. Ayah bekerja begitu keras berjam-jam setiap hari, ayah tak punya waktu untuk perengek begitu.”

Si kecil pergi ke kamarnya dengan sedih dan menutup pintu. Si ayah duduk dan merasa makin jengkel pada pertanyaan anak lelakinya.

Betapa kurang ajarnya ia menanyakan hal itu hanya untuk mendapatkan uang? Sekitar sejam kemudian, ketika lelaki itu mulai tenang, ia berpikir barangkali ia terlalu keras pada si anak. Barangkali ada keperluan yang penting hingga anaknya memerlukan uang Rp 10 ribu darinya, toh ia tak sering-sering meminta uang. Lelaki itu pun beranjak ke pintu kamar si kecil dan membukanya.

“Kau tertidur, Nak?” ia bertanya.
“Tidak, Yah, aku terjaga,” jawab si anak.
“Setelah ayah pikir-pikir, barangkali tadi ayah terlalu keras padamu,” kata si ayah. “Hari ini ayah begitu repot dan sibuk, dan ayah melampiaskannya padamu. Ini uang Rp 10 ribu yang kau perlukan.”

Si bocah laki-laki itu duduk dengan sumringah, tersenyum, dan berseru, “Oh, ayah, terima kasih.”

Lalu, sambil menguak bantal tempatnya biasa tidur, si kecil mengambil beberapa lembar uang yang tampak kumal dan lecek.

Melihat anaknya ternyata telah memiliki uang, si ayah kembali naik pitam. Si kecil tampak menghitung-hitung uangnya.

“Kalau kamu sudah punya uang sendiri, kenapa minta lagi?” gerutu ayahnya.
“Karena uangku belum cukup, tapi sekarang sudah.” jawab si kecil.
“Ayah, sekarang aku punya Rp 20 ribu. Boleh aku membeli waktu ayah barang satu jam? Pulanglah satu jam lebih awal besok, aku ingin makan malam bersamamu.”

sumber : kaskus.us