Sabtu, 30 Januari 2010

Arah kiblat berubah?


Sebanyak 320.000 atau 40 persen dari 800.000 jumlah masjid di seluruh Indonesia mengalami pergeseran arah kiblat. Salah satu penyebabnya adalah bergesernya lempeng bumi dan musibah gempa bumi bertubi-tubi yang melanda Tanah Air. Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama Rohadi Abdul Fatah mengatakan, angka tersebut diperoleh dari hasil penelitian Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang menunjukkan adanya pergeseran arah kiblat dari ratusan ribu masjid tersebut.
Sementara data Kementerian Agama hingga saat ini sebanyak 20 persen atau 160.000 masjid yang mengalami pergeseran arah kiblat. Terkait ini, dalam waktu dekat Kementerian Agama akan mengumpulkan para pengusaha, pemilik pabrik, hotel, dan pemilik gedung-gedung yang menyediakan fasilitas masjid.

“Tidak tertutup kemungkinan angka itu terus bertambah. Di Jakarta saja setiap harinya ada 10 masjid yang minta diukur ulang, belum dari daerah-daerah lain. Hal yang pasti setiap hari kami banyak menerima pengurus masjid yang minta diukur masjidnya,” ujar Rohadi di Jakarta, kemarin.
Menurut Rohadi, jumlah daerah terbesar yang mengalami pergeseran arah kiblat masjid adalah Sumatera. Rohadi mengungkapkan wilayah Sumatera merupakan daerah yang kerap mengalami gempa bumi. Adapun untuk mengetahui arah kiblat masjid secara benar, saat ini Kementerian Agama telah memiliki alat ukur yang disebut Teodolip dan tersebar di 15 provinsi. Antara lain di Jawa Barat,Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Maluku, Sulawesi Selatan,dan Sulawesi Tengah.
Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan bahwa kesalahan penentuan kiblat yang banyak terjadi di beberapa masjid di Indonesia pembetulannya tidak harus dengan membongkar bangunan. “Tak harus dibongkar masjidnya, cukup posisi saf dan arah kiblatnya yang diubah,” paparnya.
Kementerian Agama akan menurunkan tim untuk melakukan pengukuran kembali. Sementara itu, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaludin membantah informasi yang menyebutkan bahwa arah kiblat ribuan masjid di Indonesia telah berubah. “Informasi itu tidak benar. Arah kiblat tidak akan berubah. Kalaupun memang arah kiblat salah, kemungkinan itu disebabkan dari penentuan saf di dalam masjid yang tidak sesuai dengan kiblat,” ujarnya.
Menurutnya, sejauh ini tidak ada data yang menyebut bahwa arah kiblat telah berubah. Satelit penginderaan jauh milik Lapan yang ada di atmosfer pun tidak menangkap indikasi tersebut. Pergeseran lempeng bumi juga tidak akan mengubah arah kiblat, kecuali telah berlangsung selama ratusan tahun.
Doktor astronomi dari Universitas Kyoto tersebut mengatakan, kemungkinan yang perlu diluruskan adalah posisi saf yang ada pada sejumlah bangunan masjid, terutama masjid-masjid lama yang dibangun hanya dengan menggunakan teknologi kompas dan perkiraan. Sebenarnya untuk menentukan arah kiblat sudah ada ketentuannya, yakni saat matahari tepat berada di atas Kota Mekkah.
Thomas mengatakan, peristiwa itu akan terjadi sekitar tanggal 26-30 Mei pukul 16.18 WIB dan 13-17 Juli pukul 16.27 WIB. Selain itu, penentuan arah kiblat juga bisa menggunakan peranti lunak Qibla Locator yang bisa diakses di alamat situs web www.qiblalocator.com. Alat ini dirancang antara lain oleh Ibn Mas’ud dengan menggunakan peranti lunak aplikasi Google Maps API v2,sejak 2006.

Rabu, 27 Januari 2010

Sand Fountain in Saudi Arabia





Allah Maha Besar . Itu lah kata-kata yang dapat menggambarkan video ini ,,

Selasa, 26 Januari 2010

Mesjid tidak runtuh sewaktu Gempa Haiti



sekitar beberapa hari yang lalu tentu kita di cengangkan dengan adanya gempa di haiti yang berkekuatan 7 scala Richter, tentu kita sudah membayangkan betapa besar gempa tersebut yang kira-kira gempa tersebut hampir sebesar gempa di padang. rumah - rumah, gedung - gedung hancur berantakan, tapi masih ada beberapa bangunan yang masih tegak kokoh yaitu MEsjid, ya mesjid di port-au-prince ini masih tegak berdiri seakan tidak peduli akan gempa tersebut, berikut adalah beberapa saksi mata yang melihat kejadian gempa tersbut, saksi mata tersebut adalah rombongan dari caribbeanmuslims.com, berikut kisahnya

"Kami tiba di Haiti dengan selamat. Waktu itu kami menetap untuk sementara di Masjid At-Tauhid di Port-au-Prince."

"Kami lantas segera bergerak, karena kami tahu saudara-saudara kami tidak memiliki makanan dan air yang cukup, sedangkan kondisi di kota sendiri luluh lantak. Siang dan malam, kami lihat orang-orang berdiri di antrian untuk mendapatkan minyak tanah.

"Saudara-saudara muslim waktu itu membantu kami membongkar truk yang membawa bantuan. Mereka, istri-istri dan anak-anak mereka senang sekali melihat makanan dan minuman. Melihat kami, mereka menangis tekbir "Allahu Akbar!" Mereka ternyata sedang menunggu kami sepanjang hari. Setelah pembongkaran, kami melaksanakan salat Isya' secara berjamaah. Semoga Allah membantu kami semua!

Pada pagi hari tanggal 20 Januari terjadi lagi gempa susulan dengan kapasitas 6.1 S.R.. "Saat itu kami berbaring untuk beristirahat setelah salat subuh, tapi tiba-tiba kami dibangunkan oleh getaran. Semua orang mulai meneriakkan syahadat dan bergegas ke jalan. Segala puji bagi Allah, beberapa bangunan di dekat masjid runtuh, tetapi masjid tetap berdiri kokoh. "

Masjid di Port-au-Prince saat itu berubah menjadi tempat penampungan bagi umat Islam dan untuk orang-orang non Islam. Mereka yang tidak betah di masjid, tinggal di tenda-tenda di sekitar masjid.

Banyak orang yang terluka dan membutuhkan perawatan medis, makanan dan air. Beberapa organisasi muslim non-pemerintah sebenarnya sudah mengirimkan bantuan, tetapi ternyata belum cukup untuk semua.